Minggu, 01 November 2009

Damai, sebuah mimpi yang tak kunjung datang (tak akan datang)

Mendengar kata damai sudah sangat umum sekali di telinga kita, baik dari pemberitaan media maupun kausa-kausa yang lain.

Kata "damai" , dalam kamus Besar Bahasa Indonesia dibahas seperti ini :

da·mai 1 n tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman: dl masa -- perindustrian maju pesat; 2 a tenteram; tenang: betapa -- hati kami; 3 n keadaan tidak bermusuhan; rukun: penduduk kampung itu selalu hidup dng --; semuanya dapat diselesaikan secara --;
ber·da·mai v 1 berbaik kembali; berhenti bermusuhan: kedua negara yg berperang itu telah ~; 2 berunding untuk mencari kesepakatan (tt harga): harga boleh ~;
men·da·mai·kan v 1 mengusahakan agar kedua pihak berbaik kembali: kami akan mencoba ~ pertikaian mereka; 2 merundingkan supaya ada persesuaian: dia datang untuk ~ harga rumah itu dng kita; 3 menenangkan: tidak ada orang yg dapat ~ hatiku, kecuali aku sendiri;
per·da·mai·an n penghentian permusuhan (perselisihan dsb); perihal damai (berdamai): kongres ~ sedunia;
mem·per·da·mai·kan v menjadikan berdamai; mendamaikan; membuat berdamai;
ter·da·mai·kan v dapat didamaikan;
pen·da·mai n orang atau pihak yg mendamaikan: tokoh itu diharapkan dapat bertindak sbg ~ dl sengketa itu;
ke·da·mai·an n keadaan damai; kehidupan dsb yg aman tenteram: yg kucari bukan harta, melainkan ~ di hati


Dari awal kemunculan manusia di bumi (era Adam dan Hawa beserta keturunannya) hingga Masa Kini (multination/zaman dimana kedaulatan manusia dideskripsikan dalam batas negara/bangsa), kedamaian selalu dielu-elukan dan diinginkan masa tibanya. Untuk diketahui bahwa pada masa penciptaan manusia yang pertama, yaitu Adam kemudian diikuti Hawa (bagi yang berkeyakinan bahwa asal-usul manusia adalah Adam), kondisi pertama manusia adalah DAMAI.Bayangkan, surga yang penuh akan berkah dan rahmat-Nya sedang dua manusia diijinkan tinggal di dalamnya. Apakah derita bagi keduanya?.

Seiring berjalannya waktu, sebuah konflik pun meletus. Intervensi Iblis kemudian direkomendasikan (baca:diijinkan) dengan cara membisiki atau berdiskusi dengan manusia. Hal itu dijelaskan bahwa pada saat itu Adam dan Hawa telah diberi mandat memakan apa yang mereka sukai, berbuat yang mereka sukai dan sebagainya. Hanya sebuah eksepsi atau pengecualian yang oleh Sang Pencipta ajukan, JANGAN MAKAN BUAH DARI POHON INI (khuldi). Iblis beraksi dengan segala karunia yang dilimpahkan kepadanya (hidup hingga akhir jaman) yaitu mulai mempengaruhi Adam untuk mengingkari perintah Penciptanya. Walhasil, Iblis berhasil dan mencetak rekor mampu menundukkan manusia yang paling dekat dengan Tuhannya. Adam dan Hawa telah melakukan sub-ordinasi yang berakibat pengusiran dirinya serta Hawa dari Surga (konflik antara manusia-Tuhan, yang akhirnya taubat nya Adam diterima akan tetapi tetap dijatuhi sanksi).

Fase selanjutnya setelah konflik bukan berarti damai tetapi masih tahap pre-DAMAI. Bayangkan lagi, bumi yang luas permukaannya 510 juta kilometer persegi (http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi) hanya dihuni dua jiwa manusia dan letak keduanya yang berjauhan. Apakah itu damai bagi keduanya?
Tahap ini adalah masa pencarian. Hingga pada akhirnya (bukan sebuah akhir yg sebenarnya) Sang Pencipta pun mengijinkan keduanya bertemu kembali. Sebagai sifat dasar makhluk hidup yaitu melestarikan jenisnya, keduanya pun beranak pinak.Dan dari keturunan mereka berdua diturunkan lagi sebuah keturunan. Kondisi ini dapat dianggap sebagai damai , Temporary Peace.

Fase konflik berikutnya yaitu perebutan pasangan hidup. Sepasang anak kembar laki-perempuan yg pertama dan sepasang anak kembar laki-perempuan yg kedua. Pada masa itu regulasi Tuhan yg berlaku mengenai perkawinan adalah perkawinan hanya dibolehkan bila pasangan tidak berada pada masa kehamilan yg sama (serahim dan sewaktu). Itu artinya anak laki pertama hanya boleh mengawini anak perempuan kedua atau setelahnya dan anak perempuan yg pertama hanya boleh mengawini anak laki kedua atau setelahnya. (inses belum dikenal).

Ketika anak-anak Adam telah memasuki masa matang mereka, mereka dinikahkan sesuai regulasi yang berlaku. Ternyata salah satu pihak laki-laki tidak terima untuk menikahi adiknya dengan alasan tidak menarik atau tidak selera. Segala upaya ditempuh untuk menyingkirkan saingan guna merebut calon pasangan pihak laki-laki yg kedua. hingga akhirnya terjadi penghilangan nyawa pihak laki-laki yg kedua. Pada kasus yg demikian ini dapat dikategorikan sebagai perang yang pertama antar manusia sekaligus penghilangan nyawa PERDANA.

Pada abad-abad setelahnya pun manusia dan kehidupannya tak pernah lepas dari PERANG.Tengok Mesir Kuno, Babilonia, Romawi, dan dinasti kerajaan-kerajaan dan pemerintahan-pemerintahan yang terpatri dalam sejarah kuno.Pada era Renaisance, Restorasi Meiji, kemerdekaan (?) Amerika, Napoleon, Spanyol-Inca, Mamlakah Islamiyyah (kerajaan Islam), dan sebagainya sepertinya perang memang menjadi sahabat karib bagi kehidupan dunia manusia.Dilanjutkan dengan Era abad ke-20 Perang Dunia I,Perang Dunia II, Konflik Balkan, Revolusi Bolsyevic, Konflik Timur Tengah semuanya memakan korban jiwa yang tidak sedikit dan lagi-lagi Perang adalah bagian dari kehidupan manusia. Walau pada masa itu banyak Organisasi-organisasi Keduniaan PBB (UN), LBB (Liga Bangsa-Bangsa), dan lain-lain. Berbagai daya dan upaya telah dilakukan untuk mencegah perang tapi apa lacur, kita yang hidup di abad ke-21 sekarang ini pun secara langsung menjadi pemirsa dari PERANG. Se"damai-damai"nya dunia, selama masih ada manusia di atasnya,PERANG sudah barang pasti dan tak terelakkan.

Perang? mengapa menjadi sebuah jawaban?. Bahkan ada istilah latin "Si vis Pacem Parabellum" yg artinya kurang lebih "Kalau ingin Kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang".Penyebab PERANG : 1.keinginan untuk memiliki, 2.adanya negara-negara,3.keyakinan.
Istilah damai yang selama ini berlaku adalah Damai yang Parsial. Kedamaian Sejati mustahil terlaksana. Kedamaian seperti itu hanya dapat dirasakan ketika jasad ini tak lagi bernyawa.

Kedamaian di dunia telah menjadi komoditi bak barang dagangan oleh negara-negara adidaya. "kedamaian" dipetak-petakan sesuai kepentingan.

KEdamaian global, mungkinkah?saya tidak yakin...

tulisan ini saya tulis bukan untuk mengajak para pembaca untuk menjadi atheis, anarkis, pro-perang dan sebagainya , hanya saja saya jenuh dengan kedamaian yg telah lama didengungkan. Stop war, Stop kekerasan atau apalah. dan bukan berarti saya meremehkan orang yang mendambakan kedamaian.


mungkin dapat disimpulkan bahwa

"DI MANA ADA KEDAMAIAN DI SITU ADA PEPERANGAN"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar